
Pernah nggak sih, jam 2 pagi kamu masih melek, scrolling LinkedIn atau Instagram, terus tiba-tiba ngerasa dada sesak? Di layar HP, temen SMA kamu baru aja posting foto lamaran, temen kuliah sudah dapet gelar manajer di startup unicorn, sementara kamu… masih bingung besok mau makan apa atau bahkan masih mikir “Gue sebenernya mau jadi apa ya?”
Kalau jawabannya iya, welcome to the club. Kamu lagi ada di fase yang namanya Quarter-Life Crisis (QLC).
Fase ini sering banget bikin kita ngerasa kayak “produk gagal”. Kita ngerasa stuck, nggak punya arah, dan tertinggal jauh di belakang orang lain. Tapi sebelum kamu makin overthinking, ada satu hal yang perlu kamu tahu: Perasaan tersesat di usia 20-an itu bukan tanda kalau kamu gagal, melainkan bagian dari proses “adulting” yang emang seberat itu.
Apa Sih Quarter-Life Crisis Itu?
Secara sederhana, Quarter-Life Crisis adalah periode ketidakpastian dan pencarian jati diri yang biasanya dialami orang-orang di rentang usia 20 hingga awal 30 tahun. Ini adalah masa di mana transisi dari dunia pendidikan yang penuh struktur ke dunia nyata yang penuh kejutan terasa sangat brutal.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Behavioral Development, sekitar 86% kaum muda melaporkan bahwa mereka merasakan tekanan untuk sukses di berbagai bidang kehidupan (karir, hubungan, finansial) sebelum usia 30 tahun. Tekanan inilah yang sering kali memicu kecemasan hebat karena realita hidup jarang sekali berjalan sejalan dengan ekspektasi yang kita bangun sejak kecil.
Kenapa Kita Ngerasa “Tersesat”?
Ada beberapa alasan kenapa generasi kita (Gen Z) ngerasa tekanan QLC ini jauh lebih berat dibanding generasi sebelumnya:
1. Perangkap Perbandingan (The Comparison Trap)
Dulu, kita cuma tahu kesuksesan temen lewat reuni atau kabar burung. Sekarang? Kita disuapin pencapaian orang lain tiap detik lewat story Instagram atau update LinkedIn. Kita terus-menerus membandingkan “proses” kita yang berantakan dengan “hasil akhir” orang lain yang sudah dipoles sedemikian rupa.
2. Opsi yang Terlalu Banyak (Choice Overload)
Kita hidup di zaman di mana kita bisa jadi apa aja. Tapi, terlalu banyak pilihan justru bikin kita paralyzed. Kita takut milih satu jalan karena takut kehilangan kesempatan di jalan yang lain (FOMO – Fear of Missing Out). Akhirnya, kita malah diam di tempat karena takut salah langkah.
3. Standar Sukses yang Nggak Masuk Akal
Medsos bikin kita ngerasa kalau usia 23 tahun belum punya rumah sendiri atau gaji dua digit itu artinya gagal. Padahal, tiap orang punya starting line yang berbeda-beda. Standar “sukses” yang kita lihat di internet sering kali cuma anomali, bukan rata-rata.
Tanda-tanda Kamu Lagi Ada di Tengah QLC
Kadang kita nggak sadar kalau kita lagi mengalami krisis ini. Coba cek, apakah kamu ngerasa kayak gini:
- Sering ngerasa cemas soal masa depan tanpa alasan yang jelas.
- Ngerasa nggak puas sama pekerjaan sekarang, tapi nggak tahu mau pindah ke mana.
- Sering mempertanyakan keputusan-keputusan besar yang sudah diambil (kayak salah jurusan atau salah pilih kantor).
- Gampang ngerasa iri sama pencapaian orang lain di media sosial.
- Ngerasa pengen “kabur” dari tanggung jawab atau pengen balik jadi anak kecil lagi.
Kalau ini yang kamu rasain, jangan dihujat dirinya sendiri. Akui aja kalau kamu emang lagi capek.
Bahaya Kalau QLC Dibiarkan: Menuju Burnout
Kalau perasaan tersesat ini terus dipendam dan kamu malah makin maksa diri buat lari lebih kenceng tanpa arah, ujung-ujungnya kamu bakal kena burnout. Kamu bakal kehilangan energi buat ngelakuin hal-hal yang dulu kamu suka.
Penting banget buat tahu cara efektif mengatasi burnout supaya kondisi mental kamu nggak makin drop. Burnout itu sinyal dari tubuh kalau kamu udah “kepanasan” dan butuh berhenti sejenak buat mendinginkan mesin.
Cara Survive Biar Gak “Tenggelam” di Usia 20-an
Oke, terus gimana cara ngadepinnya? Nggak ada tombol magic buat langsung sukses, tapi langkah-langkah ini bisa ngebantu kamu buat ngerasa lebih tenang:
1. Stop Comparing, Start Connecting
Berhenti bandingin dirimu sama orang lain. Unfollow atau mute akun-akun yang bikin kamu ngerasa rendah diri. Fokus ke koneksi nyata. Ngobrol sama temen yang kamu percaya, biasanya kamu bakal kaget kalau ternyata mereka juga ngerasain hal yang sama. We’re all faking it until we make it.
2. Fokus ke “Next Small Step”
Jangan mikirin rencana 5 atau 10 tahun ke depan kalau itu bikin kamu sesak napas. Cukup pikirin: “Besok gue harus ngapain biar satu langkah lebih deket sama apa yang gue mau?” Pecah tujuan besar jadi langkah-langkah kecil yang masuk akal.
3. Terima Kalau “Gagal” Itu Normal
Di usia 20-an, kamu boleh banget gagal. Kamu boleh salah ambil kerjaan, kamu boleh gagal bisnis, kamu boleh putus cinta. Fase ini emang didesain buat kita “trial and error”. Kegagalan di usia ini adalah guru yang paling jujur.
4. Jaga Kesehatan Mental (Jangan Self-Diagnose!)
Kalau kamu ngerasa kecemasan kamu udah nggak wajar, jangan cuma cari jawaban di TikTok. Bicaralah sama profesional. Kamu berhak dapet bantuan yang bener buat navigasi perasaanmu.
Kesimpulan
Usia 20-an itu berisik, berantakan, dan membingungkan. Tapi di balik semua rasa tersesat itu, ada proses pertumbuhan yang luar biasa. Kamu lagi ngelepasin kulit lama kamu buat jadi versi diri yang lebih tangguh.
Nggak papa kalau sekarang kamu belum tahu jawabannya. Nggak papa kalau jalanmu nggak lurus kayak orang lain. Yang paling penting adalah kamu tetap jalan, meski pelan, dan tetap baik sama diri sendiri. Kamu nggak sendirian, dan kamu bakal baik-baik aja.