
Lagi asyik scrolling TikTok jam 2 pagi, tiba-tiba lewat video dengan backsound lo-fi yang estetik. Teks di layarnya bilang: “5 tanda kamu punya ADHD yang jarang disadari: 1. Sering lupa naruh kunci, 2. Gak fokus pas dengerin orang ngomong, 3. Suka nunda kerjaan…”
Terus kamu langsung mikir, “Wah, ini gue banget! Fix, gue punya ADHD.”
Fenomena ini sekarang lagi rame banget di kalangan kita. Di satu sisi, bagus sih karena isu kesehatan mental jadi nggak tabu lagi. Kita jadi sadar kalau kesehatan mental itu valid. Tapi di sisi lain, ada jebakan batman yang namanya Self-Diagnosis. Mengambil kesimpulan medis cuma modal video 15 detik itu ibarat kamu nebak penyakit mesin mobil cuma dari suara knalpotnya—bisa bener, tapi lebih sering ngawur dan berbahaya.
Kenapa sih kita harus berhenti jadi “dokter gadungan” buat diri sendiri cuma gara-gara konten TikTok? Yuk, kita bahas jujur-jujuran.
1. Algoritma TikTok Itu “Pintar”, Tapi Gak Punya Gelar Medis
TikTok itu dirancang buat bikin kamu betah. Algoritmanya bakal terus ngasih konten yang mirip sama apa yang kamu tonton. Kalau kamu sekali aja nge-klik video soal anxiety, besoknya FYP kamu bakal penuh sama video sejenis.
Masalahnya, ini bikin kita kena Confirmation Bias. Kamu jadi ngerasa “Semua orang di dunia punya masalah yang sama kayak gue,” atau “Semua tanda ini makin memperkuat kalau gue sakit.” Padahal, algoritma cuma ngasih apa yang kamu pengen lihat, bukan apa yang secara klinis kamu butuhin.
2. Barnum Effect: Kuis Buzzfeed Versi Medis
Pernah baca ramalan zodiak atau kuis “Siapa kamu di Avengers?” yang rasanya pas banget? Itu namanya Barnum Effect. Video TikTok sering banget pakai gejala yang sebenernya dialami semua orang kalau lagi capek atau stres, terus dikasih label gangguan mental berat.
Contoh: “Suka ngelamun itu tanda dissociative disorder.” Padahal ya mungkin kamu cuma kurang tidur atau lagi bosen aja. Menyamaratakan gejala umum dengan gangguan klinis itu red flag terbesar dari self-diagnosis.
3. Bahaya “Romanticizing” Mental Illness
Jujur aja, kadang ada tren di mana punya gangguan mental tertentu malah dianggap “estetik” atau jadi bagian dari identitas yang keren. Ini bahaya banget. Gangguan mental itu kondisi medis yang nyata dan perjuangannya berat buat yang bener-bener ngalamin. Menjadikan diagnosa sebagai “aksesoris” biar kelihatan unik cuma bakal bikin kita makin jauh dari penyembuhan yang sebenernya.
4. Kamu Bisa Salah “Obat”
Ini bagian yang paling serem. Kalau kamu udah yakin punya penyakit A (padahal belum tentu), kamu mungkin bakal nyoba-nyoba cara penyembuhan yang kamu lihat di internet juga. Entah itu minum suplemen sembarangan, diet ekstrem, atau malah makin stres karena mikirin diagnosa yang sebenernya nggak ada.
Kamu butuh filter yang kuat buat menyaring informasi ini. Kemampuan ini disebut sebagai literasi digital bagi tenaga medis dan masyarakat agar kita nggak gampang kemakan konten yang cuma ngejar views.
5. Diagnosa Itu Kompleks, Bukan Sekadar Checklist
Psikolog atau psikiater sekolah bertahun-tahun bukan buat baca checklist di TikTok. Mereka ngelihat konteks: seberapa lama gejalanya muncul? Seberapa ganggu aktivitas harian kamu? Ada nggak masalah fisik lain (kayak gangguan tiroid) yang bikin gejalanya mirip gangguan mental?
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Internet Research (JMIR) menemukan bahwa kualitas informasi kesehatan mental di media sosial sering kali rendah dan tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Banyak konten dibuat oleh orang-orang tanpa latar belakang medis yang cuma berbagi pengalaman pribadi—yang mana valid buat cerita, tapi nggak valid buat diagnosa.
Terus, Kalau Gue Ngerasa “Relate”, Gue Harus Gimana?
Ngerasa relate sama video kesehatan mental itu nggak dosa. Itu justru tanda kalau kamu lagi peduli sama diri sendiri. Tapi, jangan berhenti di self-diagnose. Lakuin ini sebagai gantinya:
- Jadikan “Pintu Masuk”, Bukan “Jawaban”: Pakai video itu sebagai alasan buat kamu pergi ke profesional. Bilang ke psikolog, “Dok/Kak, saya lihat video ini dan ngerasa gejalanya mirip saya, bener nggak ya?”
- Curhat ke Orang yang Tepat: Berbagi cerita ke temen itu oke, tapi buat urusan diagnosa, tetep harus ke ahlinya.
- Fokus ke Healthier Lifestyle: Sebelum panik sama diagnosa berat, coba cek dulu: tidur kamu cukup nggak? Makan bener nggak? Lagi ada masalah berat di kampus atau kantor nggak? Kadang mental kita “teriak” cuma karena kita kurang sayang sama tubuh sendiri.
Kesimpulan
TikTok itu tempat yang asyik buat nyari komunitas dan ngerasa nggak sendirian. Tapi, ingat ya, layar HP kamu bukan surat rujukan dokter. Diagnosa kesehatan mental itu personal dan butuh penanganan yang serius dari ahlinya. Jangan biarkan algoritma yang nentuin siapa kamu atau apa masalahmu. Kamu berhak dapet penanganan yang bener, bukan cuma diagnosa dari video yang lewat di FYP.